RENCANA KUOTA CPNS BARU 2015 UNTUK TENAGA HONORER K-II

Tahun 2015 penerimaan CPNS benar-benar ditiadakan hal ini adalah pernyataan MenPAN-RB yang dilansir oleh JPNN adapun penerimaan CPNS tahun 2015 hanya sekolah kedinasan saja yang terbuka lowongan untuk CPNS 2015

Tahun ini pemerintah hanya memfokus perancangan mekanisme tes CPNS untuk tahun 2016 termasuk membuat payung hukum K2 yang tidak lulus tes agar bisa menjadi PNS
MenPAN-RB  mengatakan pemerintah tetap membuka lowongan CPNS dari sekolah kedinasan, karena kuotanya sudah diatur atau dirancang sejak lama. Sedangkan untuk pelamar umum, pemerintah tahun ini tidak mengalokasikan anggaran tes atau seleksi CPNS baru.

Informasi awal pengangkatan tenaga honorer K-II yang bergulir mulai tahun depan, dilaksanakan secara bertahap setiap tahunnya. Rencananya kuota CPNS baru yang disiapkan untuk tenaga honorer K-II berjumlah 30 ribu kursi. "Pembahasan masih berlangsung, masyarakat tunggu informasi resmi dari pemerintah," katanya.


Sedangkan untuk kelompok pelamar umum, awalnya tahun ini akan disiapkan 100 ribu kursi. Tetapi akhirnya diputuskan rekrutmen CPNS baru tidak dibuka.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo mengatakan, pemerintah harus siap terhadap konsekuensi penghentian rekrutmen CPNS baru. "Khususnya terkait dengan posisi atau formasi guru," katanya di kantor PGRI kemarin.

Dia menegaskan proses pendidikan tidak boleh terganggu kekosongan guru karena tidak ada pengganti yang pensiun. Kebijakan menyetop rekrutmen CPNS baru ini diharapkan juga tidak boleh menggangu pelayanan vital lain seperti kesehatan.

Sulistyo menuturkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih belum memiliki data populasi guru secara akurat. Dia mengatakan informasi yang beredar jumlah guru sejatinya sudah cukup. Tetapi sebarannya belum merata. Guru menumpuk di wilayah perkotaan. Namun kosong di wilayah pedesaan.

Jika benar guru dia Indonesia sudah cukup tetapi sebarannya belum merata, dia berharap pemerintah pusat lebih tegas menjalankan distribusi guru. Aturan redistribusi guru yang menumpuk di perkotaan kemudian digeser ke wilayah pedasaan, menurut Sulistyo selama ini belum efektif.

Sumber : JPNN

G+

Tag : berita
Back To Top